
Judul : Simfoni Inovasi, Cita dan Realita
Penulis : Kusmayanto Kadiman
Editor : Sonny Yuliar
Tebal : x + 225 halaman
Penerbit: PT Foresight Asia
Cetakan : I, 2009
Hasil pemikiran dan terobosan kreatifitas dari sekelompok individu yang menghasilkan ciptaan baru, sering disebut sebagai inovasi. Walaupun belum ada satu definisi khusus dari istilah inovasi, namun ada satu kesepakatan bahwa inovasi tidak terlepas dari "kebaruan" inovatif yang meliputi dua aspek utama yaitu, terciptanya "nilai baru" dan "ilmu pengetahuan baru".
Istilah "inovasi" itu sendiri berasal dari bahasa latin "innnovare", yang merujuk pada penggunaan cara-cara baru untuk menghasilkan nilai-nilai baru. Makna serupa pernah dilontarkan oleh Ki Hajar Dewantoro beberapa dekade silam melalui slogan "niteni, niroake, nambahake" atau "mencermati, menirukan, menambahkan".
Karena bersangkutan dengan nilai-nilai, inovasi merupakan proses yang kompleks karena sesuatu yang bernilai bagi pihak tertentu, belum tentu bernilai bagi pihak lain. Jadi, sebagai gagasan normatif, inovasi merupakan hal yang menarik, dan menciptakan harapan akan terciptanya nilai-nilai baru. Tetapi menyusun teori tentang inovasi merupakan hal yang tidak mudah karena perlu membahas pluralitas nilai-nilai dan mentransformasikannya menjadi sebuah nilai bersama yang baru.
Upaya dialog untuk menggali masalah seputar inovasi yang dilakukan Menteri Riset dan Teknologi, Kusmayanto Kadiman (KK) dengan sejumlah tokoh dalam buku Simfoni Inovasi, Cita dan Realita ini sangatlah tepat. Pembahasan yang bersifat eksploratif-empiris ini melibatkan sejumlah tokoh masyarakat dari berbagai bidang ilmu yang masuk dalam kategori pelaku utama inovasi yaitu akademisi/accademians (A), pelaku bisnis/Bussinesmen (B) dan penyelenggara pemerintah/government (G). Dengan metode pembahasan ini, diharapkan pembaca bisa memahami konsep-konsep yang terkait dengan inovasi, melalui eksplorasi terhadap situasi dan kondisi yang nyata.
Pada dialog bagian satu, pembaca bisa menyimak pengalaman pelaku A-B-G dalam merintis inovasi di bidang yang relevan dengan enam prioritas riset nasional yaitu energi, pangan, obat-obatan, transportasi, pertahanan, dan teknologi informasi. Mereka adalah Edie Haryono (PT Angkasa Pura), Hilmi Panigoro (Medco Energi Internasional), Herman Darnel Ibrahim (PLN Jakarta), Suryatin Setiawan (PT Telkom Indonesia), Budi Santoso (PT Pindad), Irwan Hidayat (PT Jamu Sidomuncul), dan Boenjamin Setiawan (PT Kalbe Farma Tbk).
Meski tidak mewakili keseluruh pelaku A-B-G, melalui pengalaman mereka, kita bisa melihat fakta-fakta yang relevan untuk memahami kapabilitas ekonomi nasional. Dalam dialog bagian satu ini, kita akan mendapati arti penting dari interaksi dalam keberagaman, dan pembelajaran lewat interaksi, dan membangun kapabilitas inovasi.
Sayangnya, masing-masing pelaku A-B-G masih berada dalam dunianya sendiri-sendiri dan bergerak di jalurnya masing-masing hingga terlihat begitu heterogen. Perbedaan ini terkait dengan perbedaan kerangka kerja praktis, yakni perbedaan dalam orientasi, tujuan, tolok ukur kemajuan, kaidah dan pengetahuan praktis. Maka, diperlukan langkah awal yang penting dalam membangun kapabilitas inovasi melalui interaksi dan komunikasi secara "melintas-batas".
Pada dialog bagian dua, KK mencoba menggali masalah seputar Ekologi Inovasi dengan tokoh-tokoh seperti Setiyono Djuandi Darmono (PT Jababeka), Rama Prihandana (PT Rajawali Nusantara Indonesia), Thee Kian Wie (Pusat Penelitian Ekonomi LIPI), Noke Kiroyan (PT Rajawali Nusantara), Mayling Oey-Gardiner (Insan Hitawasana Sejahtera), Aristides Katoppo, Mudji Sutrisno, hingga Mustofa Bisri (Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin).
Inovasi tidak hanya berurusan dengan pengetahuan baru dan cara-cara baru, tetapi juga dengan nilai-nilai, karena harus bisa membawa hasil yang lebih baik. Nilai-nilai ini berhubungan dengan cara pandang atau prespektif yang dimiliki oleh manusia atau kelompok sosial di masyarakat. Jadi selain melibatkan iptek baru, inovasi juga melibatkan cara pandang dan perubahan sosial.
Melalui dailog-dialog dalam buku ini, KK mengajak pembaca untuk ”bermimpi” tentang cita-cita bersama, dan membangun ”pemahaman” akan realita bersama. Ketika kita sampai pada cita-cita dan pemahaman bersama itu, maka tantangan ke depan adalah mengubah cita-cita ini menjadi realita baru. Hal itu bisa terwujud jika Inovasi dan iptek disinergikan dengan pelaku inovasi, membantu masyarakat dalam menggapai cita-cita berdasarkan kapabilitas yang dimiliki dan realita yang sedang dihadapi bersama. Hubungan inilah yang akan menciptakan sebuah alunan simfoni indah. (sb)